Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah 108 , 109 , 110


أَمْ تُرِيدُونَ أَن تَسْأَلُواْ رَسُولَكُمْ كَمَا سُئِلَ مُوسَى مِن قَبْلُ وَمَن يَتَبَدَّلِ الْكُفْرَ بِالإِيمَانِ فَقَدْ ضَلَّ سَوَاء السَّبِيلِ ,
Apakah kamu menghendaki untuk meminta kepada Rasul kamu seperti Bani Israil meminta kepada Musa pada zaman dahulu? Dan barang siapa yang menukar iman dengan kekafiran, maka sungguh orang itu telah sesat dari jalan yang lurus. (QS. 2:108)
Melalui ayat ini, Allah Ta’ala melarang orang-orang mukmin banyak bertanya kepada NabiShalallahu ‘alaihi wa sallam mengenai hal-hal sebelum terjadi, sebagaimana Dia berfirman: Î يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَ امَنُوا لاَتَسْئَلُوا عَنْ أَشْيَآءَ إِن تُبْدَ لَكُمْ تَسُؤْكُمْ وَإِن تَسْئَلُوا عَنْهَا حِينَ يُنَزَّلُ الْقُرْءَ انُ تُبْدَ لَكُمْ Ï “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menanyakan (kepada Nabimu) hal-hal yang jika diterangkan kepadamu, niscaya akan menyusahkanmu dan jika kalian menanyakan pada waktu al-Qur’an itu sedang diturunkan, niscaya akan diterangkan kepadamu.” (QS. Al-Maidah: 101)
Artinya, jika kalian menanyakan perinciannya setelah ayat itu diturunkan, niscaya akan dijelaskan kepada kalian. Dan janganlah kalian menanyakan suatu perkara yang belum terjadi karena boleh jadi perkara itu akan diharamkan akibat adanya pertanyaan tersebut. Oleh karena itu dalam sebuah hadits shahih Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ أَعْظْمَ الْمُسْلِمِيْنَ جُرْمًا مَنْ سَأَلَ عَنْ شَىْءٍ لَمْ يُحَرَّمْ فَحُرِّمَ، مِنْ أَجْلِ مَسْئَلَتِهِ.
“Sesungguhnya orang muslim yang paling besar kejahatannya adalah yang me-nanyakan sesuatu yang tidak diharamkan, kemudian menjadi diharamkan lantaran pertanyaan tadi.”
Ketika Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam ditanya mengenai seseorang yang mendapatkan istrinya bersama laki-laki lain. Jika hal itu ia bicarakan, maka itu adalah suatu aib untuknya. Dan jika ia biarkan, maka pantaskah ia diamkan hal tersebut? Maka RasulullahShalallahu ‘alaihi wa sallam tidak menyukai pertanyaan-pertanyaan seperti itu dan mencelanya. Kemudian Allah Ta’ala menurunkan hukum mula’anah (li’an).
Oleh karena itu, di dalam kitab Shahihain ditegaskan melalui sebuah hadits yang diriwayatkan dari al-Mughirah bin Syu’bah:
كَانَ يَنْهَى عَنْ قِيْلَ وَقَالَ، وَإِضَاعَةِ الْمَالِ، وَكَثْرَةِ السُّؤَالِ.
“Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam melarang banyak bicara dan membicarakan setiap kabar yang didengarnya isu, menghambur-hamburkan harta, serta banyak bertanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam kitab Shahih Muslim diriwayatkan, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
ذَرُوْنِى مَا تَرَكْتُكُمْ، فَإِنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ بِكَثْرَةِ سُؤَالِهِمْ وَاخْتَلاَفِهِمْ عَلَى أَنْبِيَائِهِمْ، فَإِذَا أَمَرْتُكُمْ بِأَمْرٍ فَأْتُوْا مِنْهُ مَا اسْتطَعَتُمْ، وَإِنْ نَهَيْتُكُمْ عَنْ شَىءٍ فَاجْتَنِبُوْهُ.
“Jangan banyak bertanya kepadaku, laksanakan saja apa yang aku telah ajarkan kepada kalian. Karena binasanya orang-orang sebelum kalian disebabkan mereka banyak bertanya dan menentang para nabi mareka. Jika aku memerintahkan sesuatu kepada kalian, maka kerjakanlah semampu kalian. Dan jika aku melarang kalian mengerjakan sesuatu, maka hindarilah.” (HR. Muslim)
Yang demikian itu dikemukakan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam setelah mereka diberitahukan bahwa Allah Ta’ala mewajibkan ibadah haji kepada mereka, lalu se-seorang bertanya: “Apakah setiap tahun, ya Rasulullah?” Maka Rasulullah pun terdiam meskipun telah ditanya sebanyak tiga kali. Setelah itu beliau pun menjawab: “Tidak, seandainya kujawab, ‘Ya,’ maka akan menjadi suatu kewajiban. Dan jika diwajibkan, niscaya kalian tidak sanggup menunaikannya.” Kemudian beliau bersabda: “Janganlah banyak bertanya kepadaku, laksanakan saja apa yang aku telah ajarkan kepada kalian. Karena binasanya orang-orang sebelum kalian disebabkan mereka banyak bertanya dan menentang pada nabi mereka. Jika aku memerintahkan sesuatu kepada kalian, maka kerjakanlah semampu kalian. Dan jika aku melarang kalian mengerjakan sesuatu, maka hindarilah.”
Oleh karena itu, Anas bin Malik pernah berkata, “Kami dilarang bertanya kepada RasulullahShalallahu ‘alaihi wa sallam mengenai sesuatu. Hal yang menggembirakan kami adalah jika ada seorang dari penduduk pedalaman yang datang dan bertanya kepada beliau dan kami mendengarnya.”
Firman Allah Ta’ala, Î أَمْ تُرِيدُونَ أَن تَسْئَلُوا رَسُولَكُمْ كَمَا سُئِلَ مُوسَى مِن قَبْلُ Ï “Apakah kalian menghendaki untuk meminta kepada Rasul kalian seperti Bani Israil meminta kepada Musa pada zaman dahulu?” Maksudnya adalah, bahkan kalian menghendaki untuk itu. Atau dapat juga dikatakan bahwa hal itu termasuk bab istifham (pertanyaan) yang mempunyai makna penolakan. Dan firman-Nya itu berlaku umum, baik orang-orang mukmin dan juga orang-orang kafir, karena Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam itu diutus kepada umat manusia secara keseluruhan. Sebagaimana firman-Nya:
Ï يَسْئَلُكَ أَهْلُ الْكِتَابِ أَنْ تُنَزِّلَ عَلَيْهِمْ كِتَابًا مِّنَ السَّمَآءِ فَقَدْ سَأَلُوا مُوسَى أَكْبَرَ مِن ذَلِكَ فَقَالُوا أَرِنَا اللهَ جَهْرَةً فَأَخَذَتْهُمُ الصَّاعِقَةُ بِظُلْمِهِمْ Î
“Ahlul kitab meminta kepadamu agar kamu menurunkan kepada mereka sebuah kitab dari langit. Maka sesungguhnya mereka telah meminta kepada Musa yang lebih besar dari itu. Mereka berkata: ‘Perlihatkanlah Allah kepada kami dengan nyata.’ Maka mereka disambar petir karena kezhalimannya.” Maksudnya, Allah Ta’ala mencela orang yang bertanya kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam mengenai sesuatu hal dengan tujuan untuk mempersulit dan mengusulkan pendapat yang lain, sebagaimana yang ditanyakan Bani Israil kepada Musa ‘alaihissalam dalam rangka menyulitkan, mendustai, dan mengingkarinya.
Firman-Nya, Î وَ مَـن يَتَبَدَّلِ الْكُـفْرَ بِاْلإِيمَانِ Ï “Dan barangsiapa menukar keimanan dengan kekufuran.” Artinya, barangsiapa membeli kekufuran dengan menukarnya (dengan) keimanan, Î فَقَدْ ضَلَّ سَوَاءَ السَّبِيلِ Ï “Maka ia benar-benar tersesat dari jalan yang lurus.” Artinya, ia telah keluar dari jalan yang lurus menuju kebodohan dan kesesatan. Demikian itulah keadaan orang-orang yang menolak untuk membenarkan dan mengikuti para nabi dan berbalik menuju penentangan dan pendustaan serta mengusulkan pendapat yang lain melalui pertanyaan-pertanyaan yang sebenarnya mereka tidak memerlukannya dan hanya bertujuan untuk menyulitkan dan kufur.
Abul ‘Aliyah mengatakan, “(Maksud ayat di atas yaitu) menukar kebahagiaan dengan kesengsaraan.”
وَدَّ كَثِيرٌ مِّنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَوْ يَرُدُّونَكُم مِّن بَعْدِ إِيمَانِكُمْ كُفَّاراً حَسَداً مِّنْ عِندِ أَنفُسِهِم مِّن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْحَقُّ فَاعْفُواْ وَاصْفَحُواْ حَتَّى يَأْتِيَ اللّهُ بِأَمْرِهِ إِنَّ اللّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ , وَأَقِيمُواْ الصَّلاَةَ وَآتُواْ الزَّكَاةَ وَمَا تُقَدِّمُواْ لأَنفُسِكُم مِّنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِندَ اللّهِ إِنَّ اللّهَ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ
Sebagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran. Maka ma’af-kanlah dan biarkanlah mereka, sampai Allah mendatangkan perintah-Nya. Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.(QS. 2:109) Dan dirikan-lah shalat dan tunaikan zakat. Dan apa-apa yang kamu usahakan dari ke-baikan bagi dirimu, tentu kamu akan mendapat pahalanya pada sisi Allah. Sesungguhnya Allah Mahamelihat apa-apa yang kamu kerjakan. (QS. 2:110)
Allah Tabaraka wa Ta’ala mengingatkan hamba-hamba-Nya yang beriman agar tidak menempuh jalan orang-orang kafir dari Ahlul Kitab. Dia juga memberitahu mereka tentang permusuhan orang-orang kafir terhadap mereka, baik secara batiniyah maupun lahiriyah. Dan berbagai kedengkian yang menyelimuti mereka terhadap orang-orang mukmin karena mereka mengetahui kelebihan yang dimiliki orang-orang Mukmin dan Nabi mereka. Selain itu, AllahTa’ala memerintahkan hamba-hamba-Nya yang beriman untuk berlapang dada dan memberi maaf sampai tiba saatnya Allah Ta’ala mendatangkan pertolongan dan kemenangan. Juga menyuruh mereka mengerjakan shalat dan menunaikan zakat.
Sebagaimana yang diriwayatkan Muhammad bin Ishak, dari Ibnu Abbas, ia mengatakan, Huyay bin Akhthab dan Abu Yasir bin Akhthab merupakan orang Yahudi yang paling dengki terhadap masyarakat Arab, karena Allah Ta’ala telah mengistimewakan mereka dengan (mengutus) Rasul-Nya, Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam. Selain itu, keduanya juga sebagai orang yang paling gigih menghalangi manusia memeluk Islam. Berkaitan dengan kedua orang tersebut, Allah Ta’ala menurunkan ayat, Î وَدَّكَثِيرُُ مِّنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَوْ يَرُدُّونَكُم Ï “Sebagian besar Ahlul Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kalian kepada kekafiran setelah kalian beriman.” Lebih lanjut Allah Ta’ala berfirman, Î كُفَّارًا حَسَدًا مِّنْ عِندِ أَنفُسِهِم مِّن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْحَقُّ Ï “Karena dengki yang timbul dari diri mereka sendiri setelah nyata bagi mereka ke-benaran.” Dia berfirman, yaitu setelah kebenaran terang benderang di hadapan mereka dan tidak ada sedikit pun yang tidak mengetahuinya, tetapi kedengkian menyeret mereka kepada pengingkaran. Maka Allah Ta’ala pun benar-benar mencela, menghina, dan mencaci mereka, serta menyegerakan bagi Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam dan juga orang-orang yang beriman yang telah membenarkan, mengimani, dan mengakui apa yang diturunkan AllahTa’ala kepada mereka dan yang diturunkan kepada orang-orang sebelum mereka, kemuliaan, pahala yang besar, dan per-tolongan-Nya.
Mengenai firman-Nya, Î مِّنْ عِندِ أَنفُسِهِم Ï, ar-Rabi’ bin Anas mengatakan, “(Hal itu berarti), berasal dari diri mereka sendiri.”
Sedangkan mengenai firman-Nya, Î مِّن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْحَقُّ Ï “Setelah nyata bagi mereka kebenaran,” Abul ‘Aliyah mengatakan, “Yaitu setelah mereka melihat dengan jelas bahwa Nabi Muhammad, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam tertulis dalam kitab Taurat dan Injil. Lalu mereka mengingkarinya karena dengki dan iri, karena Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bukan dari kalangan mereka (Yahudi).”
Hal serupa juga dikatakan oleh Qatadah dan ar-Rabi’ bin Anas.
Dan firman Allah Ta’ala, Î فَاعْفُوا وَاصْفَحُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ Ï “Maka maafkanlah dan biarkanlah mereka, sampai Allah mendatangkan perintah-Nya.” Ayat ini sama seperti firman Allah berikut ini:
Î وَ لَتَسْمَعُنَّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِن قَبْلِكُمْ وَ مِنَ الَّذِينَ أَشْرَكُوا أَذًىكَثِيرًا Ï “Dan juga kalian sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang Ahli Kitab yang mempersekutu-kan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati.” (QS. Ali Imran: 186)
Mengenai firman-Nya, Î فَاعْفُوا وَاصْفَحُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ Ï “Maka maafkan-lah dan biarkanlah mereka, sampai Allah mendatangkan perintah-Nya,” Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia mengatakan, ayat tersebut telah dinasakh dengan ayat-ayat berikut ini: Î فَاقْتُلُوا الْمُشْـرِكِيْنَ حَيْثُ وَجَدْتُمُوْهُمْ Ï “Maka bunuhlah orang-orang musyrik itu di mana saja kalian jumpai mereka.” (QS. At-Taubah: 5)
Juga (dengan) firman-Nya:
Ï قَاتِلُوا الَّذِينَ لاَيُؤْمِنُونَ بِاللهِ وَلاَ بِالْيَوْمِ اْلأَخِرِ وَلاَيُحَرِّمُونَ مَاحَرَّمَ اللهُ وَرَسُولُهُ وَلاَيَدِينُونَ دِينَ الْحَقِّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حَتَّى يُعْطُوا الْجِزْيَةَ عَن يَدٍ وَهُمْ صَاغِرُونَ Î
“Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak pula kepada hari akhir serta tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan al-Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk.” (QS. At-Taubah: 29)
Dengan demikian pemberian maaf tersebut dinasakh (dihapuskan) bagi orang-orang musyrik. Hal yang sama dikemukakan oleh Abul ‘Aliyah, ar-Rabi’ bin Anas, Qatadah, dan as-Suddi, bahwa ayat tersebut mansukh dengan ayat saif (pedang). Hal itu ditunjukkan pula oleh firman-Nya, Î حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ Ï “Sehingga Allah mendatangkan perintah-Nya.” Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan untuk memberikan maaf seperti yang diperintahkan Allah, sehingga Allah mengizinkan kaum muslimin memerangi mereka. Lalu dengannya Allah membunuh para pemuka kaum Quraisy.
Hadits tersebut berisnad shahih, meskipun aku sendiri tidak mendapatkannya di dalamKhutubus Sittah (enam kitab hadits: Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abu Daud, Sunan at-Tirmidzi, Sunan Ibnu Majah, dan Sunan an-Nasa’i), tetapi ia mempunyai dasar dalam kitab Shahihain, dari Usamah bin Zaid.
firman Allah U:
Î وَأَقِيمُوا الصَّلاَةَ وَءَ اتُوا الزَّكَاةَ وَمَا تُقَدِّمُوا لأَنفُسِكُم مِّنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِندَ اللَّهِ Ï “Dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Kebaikan apapun yang kamu lakukan untuk dirimu, maka kamu akan menemukan pahalanya pada sisi Allah.” Allah Ta’ala memerintahkan mereka untuk mengerjakan hal-hal yang bermanfaat bagi mereka yang pahalanya adalah untuk mereka pada hari kiamat kelak, seperti misalnya mendirikan shalat dan menunaikan zakat, sehingga Allah Ta’ala memberikan kepada mereka kemenangan dalam kehidupan dunia ini dan ketika hari kebangkitan kelak, Î يَوْمَ لاَيَنفَعُ الظَّالِمِيـنَ مَعْذِرَتُهُمْ وَلَهُمُ اللَّعْنَةُ وَلَهُمْ سُوءُ الدَّارِ Ï “Yaitu hari yang tidak berguna bagi orang-orang zhalim permintaan maafnya dan bagi merekalah laknat dan bagi mereka pula tempat tinggal yang buruk.” (QS. Al-Mu’min: 52)
Oleh karena itu Allah Ta’ala berfirman, Î إِنَّ اللَّهَ بِمَا تَعْمَلُـونَ بَصِرٌ Ï “Sesungguhnya Allah Mahamelihat apa-apa yang kamu kerjakan.” Artinya Allah Ta’ala tidak akan lengah terhadap suatu amalan yang dikerjakan seseorang dan tidak pula menyia-nyiakannya, apakah itu berupa amal kebaikan maupun kejahatan. Dan Dia akan memberikan balasan kepada setiap hamba-Nya sesuai dengan amal perbuatannya.
Mengenai firman-Nya, Î إِنَّ اللَّهَ بِمَـا تَعْمَلُـونَ بَصِيـرٌ Ï “Sesungguhnya Allah Mahamelihat apa-apa yang kalian kerjakan.” Abu Ja’far Ibnu Jarir mengatakan, berita ini berasal dari Allah Ta’alauntuk orang-orang mukmin yang menjadi khithab (sasaran dalam pembicaraan) pada ayat ini, yaitu bahwa apapun yang mereka kerjakan, baik maupun buruk, secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan, maka Dia senantiasa melihatnya, tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dari-Nya. Dia akan membalas perbuatan baik dengan kebaikan, kejahatan dengan kejahatan serupa. Firman-Nya ini, meskipun berkedudukan sebagai berita, namun mengandung janji dan ancaman, sekaligus perintah dan larangan. Di mana Dia memberitahukan kepada umat manusia bahwa Dia Maha-mengetahui seluruh amal yang mereka kerjakan, dengan tujuan agar mereka lebih bersungguh-sungguh untuk berbuat ketaatan, dan semuanya itu akan men-jadi simpanan bagi mereka, sehingga Dia memberikan balasan kepada mereka. Sebagaimana firman-Nya, Î وَمَا تُقَدِّمُوا لأَنفُسِكُم مِّنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِندَ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ Ï“Kebaikan apapun yang kamu lakukan untuk dirimu, maka kamu akan menemukan pahala-nya pada sisi Allah.” Mereka juga diperingatkan agar tidak berbuat maksiat kepada-Nya.
Sedangkan mengenai firman-Nya, Î بَصِيرٌ Ï “Mahamelihat,” lebih lanjut Ibnu Jarir mengatakan, Allah Ta’ala “مُبْصِرٌ” (melihat), lalu kata itu berubah menjadi “بَصِيْرٌ” sebagaimana “مُبْدِعٌ” (menciptakan) menjadi “بِدِيْعٌ” dan “مُؤْلِمٌ” (pedih) menjadi “أَلِيمٌ”. Wallahu a’lam.
Sumber: Diadaptasi dari Tafsir Ibnu Katsir, penyusun Dr. Abdullah bin Muhammad bin Ishak Ali As-Syeikh, penterjemah Ust. Farid Ahmad Okbah, MA, dkk. (Pustaka Imam As-Syafi’i)

0 komentar