JIKA ADA PERTANYAAN SEPUTAR KONTEN DALAM BLOG INI, SILAHKAN INBOX FB SAYA SAJA KARENA SAYA SERING TIDAK SEMPAT MEMBACA KOMENTAR FACEBOOK DI TIAP POSTING

Sabtu, 22 Oktober 2011

Back To Nature ( Berhitung Memakai Lidi )

              Murid kelas lima SD nggak bisa menghitung 2 x 8, aneh memang tapi nyata adanya. Dan ini bukan kasus pertama yang saya temui. Tahun lalu ada satu anak dengan kasus serupa. Tahun ini alhamdulillah ada dua.

               Jika anda mengajar di SD perkotaan apalagi SD favorit yang bahkan menyeleksi calon siswanya, tentu anda tidak akan menemui kasus seperti ini. Tapi di sekolah-sekolah pinggiran, apalagi di daerah yang agak terisolir seperti tempat saya mengajar, mungkin akan ditemui kasus serupa. Berbagai keterbatasan seperti kurangnya jumlah guru, jumlah ruang kelas, dan faktor-faktor lain mungkin adalah penyebabnya.


                Ketidakmampuan siswa menyelesaikan soal sesederhana itu, membawa saya pada kesimpulan bahwa siswa tersebut belum memahami konsep perkalian. Pada kondisi yang normal seharusnya anak sudah memahami konsep perkalian di kelas 2 SD. Siswa-siswa saya tersebut adalah anak yang normal jasmani dan rohani. Lalu mengapa siswa tersebut belum memahami konsep tersebut hingga saat ini?
                
                Matematika memang pelajaran yang unik. Kelekatannya dengan angka-angka dan simbol menjadikannya berbeda dengan mata pelajaran lain. Angka dan simbol pada kenyataanya memang lebih sulit dipahami bagi sebagian anak. Sebagaimana pendapat Piaget, anak usia 7 hingga 11 tahun tahap berpikir mereka masih berada pada tahap operasional konkret. Pada tahap ini yang dapat mereka pahami adalah hal-hal yang nyata, sesuatu yang dapat mereka lihat, dengar, dan rasakan dengan panca indera mereka. Sedangkan konsep bilangan tidaklah seperti itu. Adalah tugas guru untuk menjembatani konsep yang abstrak agar  terlihat nyata bagi siswa. Dan saya adalah guru mereka.

               Untuk meminimalisir keabstrakan konsep kita dapat menggunakan alat peraga. Mengingat kondisi sosial ekonomi wali murid yang memang kurang berada, yang saya pikirkan adalah sebuah alat peraga yang mudah didapat, murah tapi cukup efektif. Saya kemudian teringat bagaimana guru SD saya dulu mengajari saya berhitung. Kami berhitung menggunakan lidi.

               Lidi, adalah bahan yang sangat mudah diperoleh siswa. Mereka umumnya mempunyai kebun dengan pohon enau atau pohon kelapa di dalamnya, jadi mereka tidak harus membeli. Lidi juga mudah dibawa, ringan, dan aman. Maka sempurnalah lidi sebagai pilihan saya.
Pada prakteknya penggunaan lidi memang cukup efektif. Siswa-siswa saya mulai mahir berhitung sekarang. Bahkan mereka sudah dapat memahami konsep pembagian. Menarik akar bilangan kuadratpun bukan masalah.

Senangnya melihat mereka bagitu antusias belajar matematika.

8 komentar:

  1. Ibu Asih. blog Anda bagus sekali. Sangat lengkap. Untuk pokok bahasan kali ini, saya sangat tertarik karena saya pun menemukan anak kelas 6 yang belum bisa perkalian dasar.Untuk kembali menjelaskan dasar perkalian dari penjumlahan berulang pun saya kesulitan karena si anak tidak bisa penjumlahan di atas 10. Padahal saya juga harus mengejar materi untuk persiapan ujian dia. apakah ada solusi? saat ini saya hanya bisa memberikan metode drill. hasilnya agak lumayan, namun si anak merasa bosan karena tiap pertemuan selalu saya drill dengan perkalian dan penjumlahan. saya coba pakai peraga namun si anak kurang telaten karena bilangan di kelas 6 sudah besar. bantu saya. teria kasih.

    BalasHapus
  2. Terima kasih atas kunjungan anda di blog ini.
    Saya juga menghadapi problem yang kurang lebih sama dengan anda, bilangan yang dipaka di kelas lima juga bilangan yang besar, untuk itu saya mensiasati dengan penggunaan lidi bercincin, insyaAlloh akan segera saya posting uraiannya. Mungkin bisa menjadi salah satu alternatif solusi bagi anda.

    BalasHapus
  3. Hampir sama dengan kasus di sekolah sya bu, ketika anak masuk ke kelas 5 boleh di katakan belum bisa bahkan tidak tahu perkalian, ketika mencoba di hapal tenyata hapalan itu cepat lupa di anak, langkah bu asih tepat, pemahaman konsep yang mesti di tanamkan pada anak yang terpenting, setelah itu kita coba dengan soal-soal (drill). untuk aplikasi konsep tadi, jangan pernah bosan karena hampir tiap tahun pasti menemukan anak yang demikian bahkan jumlahnnya tidak tanggung setenganh dari jumlah murid..

    BalasHapus
  4. Ternyata banya juga yaa kasus spt yg sy alami. Terimakasih atas dukungannya Pak Risman. Jadi lebih semangat membimbung anak2 ini....
    ajah baru, tantangan baru, Semangat baru....heheh

    BalasHapus
  5. saya baru tahun ini mengajar kelas 5 ,kasusnya sama,saya coba terapkn pakai jari untuk perkalian 1-5,ternyata untuk perkalian 3-5 ,sulit menghitungnya,akhirnya saya gabung ,metode jari media lidi,alhamdulillah ada kemajuan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah...
      Selain kesulitan yang Anda ceritakan, perkalian dengan jari, kurang baik untuk anak yang belum memahami konsep perkalian, meskipun bisa berhitung dengan cepat, anak kurang paham apa sebenarnya hakikat dari operasi perkalian.
      Thx 4 sharing....

      Hapus
    2. Matematika bukanlah sekedar ilmu menghafal. Pengalaman saya kunci sukses ada di kelas 1, 2 dan 3, Insya Allah lembut kabaktakur dikelas tsb aman dikls selanjutnya. semoga sukses

      Hapus
    3. Setuju sekali ....Terimakasih atas doanya...

      Hapus

MESIN PENCARI